Balai POM di Mamuju Gelar Bimtek Pengendalian AMR di Majene, Perkuat Peran Tenaga Kesehatan

08-04-2026 Balai Besar/Balai POM Dilihat 179 kali

Majene, 7 April 2026 — Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kapasitas tenaga kesehatan terhadap ancaman resistensi antimikroba, Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Mamuju melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengendalian Antimicrobial Resistance (AMR) di Aula Pertemuan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Selasa (07/04). Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari sarana pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Majene.

Kegiatan Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terkait penggunaan antibiotik secara rasional serta pengendalian resistensi antimikroba yang saat ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Resistensi antimikroba (AMR) merupakan kondisi ketika mikroorganisme menjadi kebal terhadap obat, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif dan berpotensi meningkatkan angka kesakitan hingga kematian .

Kepala Balai POM di Mamuju, Burham Sidobejo, S.H. M.H, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran tenaga kesehatan sangat krusial dalam menekan laju AMR.
“Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menjadi salah satu faktor utama terjadinya resistensi. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini kami berharap tenaga kesehatan dapat semakin bijak dalam menyerahkan dan penggunaan antibiotik sesuai indikasi medis,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Balai POM dalam mendukung program nasional pengendalian AMR melalui pendekatan lintas sektor.

Sementara itu, salah satu petugas Balai POM di Mamuju, Juhriah, S.Si. Apt, menjelaskan bahwa edukasi kepada tenaga kesehatan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Jika pemahaman mereka kuat, maka penggunaan antibiotik di masyarakat juga akan lebih terkendali,” jelasnya.

Kepala Balai POM di Mamuju, Burham Sidobejo, yang juga bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pengendalian AMR memerlukan kolaborasi semua pihak.
“AMR bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan lingkungan. Diperlukan sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan penggunaan antimikroba dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi terkait konsep dasar AMR, penggunaan antibiotik rasional, serta peran fasilitas pelayanan kesehatan dalam pengendalian resistensi antimikroba. Diskusi interaktif juga dilakukan untuk membahas berbagai permasalahan yang dihadapi di lapangan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tenaga kesehatan di Kabupaten Majene dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus berkontribusi dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba secara berkelanjutan.

Sarana